Aceh Utara — Sore itu, Sabtu (19 April 2026), langit mulai meredup selepas waktu ashar. Rombongan Islamic Vocational High School (IVHS) Alfata Banda Aceh tiba di sebuah sudut sederhana di kawasan Ulee Madon. Sebanyak 23 siswa dari jenjang SMP hingga SMA, didampingi 8 guru, melangkah masuk ke Putroena Souvenir—sebuah industri kecil yang menyimpan cerita besar tentang ketekunan, ketahanan, dan makna usaha.

Di balik deretan produk kerajinan khas Aceh yang tertata rapi, sosok Ibu Maryana menyambut dengan senyum hangat. Tidak sekadar menerima kunjungan, ia membuka ruang cerita—tentang perjalanan panjang yang telah ia rintis bahkan sejak sebelum tsunami melanda Aceh.

Dengan gaya tutur yang mengalir, Maryana mengajak para siswa menyelami proses produksi souvenir—dari ide sederhana hingga menjadi produk bernilai jual tinggi. Namun, yang lebih membekas bukan sekadar proses bisnisnya, melainkan nilai yang ia pegang teguh: usaha bukan hanya tentang keuntungan, tetapi juga tentang kebermanfaatan.

Baginya, membangun usaha berarti menghidupkan harapan orang lain. Para pekerja yang terlibat bukan sekadar karyawan, melainkan bagian dari ekosistem yang saling menguatkan. “Bisnis ini juga cara kami menjaga tradisi dan budaya,” ungkapnya, menegaskan bahwa produk yang dihasilkan bukan sekadar barang, melainkan identitas.

Semangat think locally, act globally terasa nyata dalam perjalanan Putroena Souvenir. Dari usaha rumahan, kini produknya telah menjangkau pasar nasional hingga internasional. Berbagai instansi besar mempercayakan kebutuhan souvenir mereka, mulai dari perusahaan hingga agenda berskala nasional seperti Pra Rakerkomwil I APEKSI 2026 di Banda Aceh.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Pandemi COVID-19 sempat menjadi titik paling berat. Produksi terhenti di gudang, sementara penjualan nyaris nihil. “Saya sempat ingin berhenti,” ujar Maryana lirih. Di titik itu, bisnis seakan kehilangan arah—sebuah kondisi yang ia gambarkan dengan sederhana: tanpa penjualan, usaha bisa mati.

Harapan justru datang dari orang-orang terdekat. Dukungan karyawan dan dorongan dari keluarga membuatnya bertahan. Dengan memanfaatkan teknologi sederhana—smartphone dan media sosial—ia mulai membangun kembali jejaring. Satu per satu relasi lama dihubungi. Perlahan, roda usaha kembali berputar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *